![]() |
| Sumber gambar: herusupanji.blogspot.com |
Assalamu’alaikum, Kembali lagi di Blog Timphan. judul Postingan yang sangat menggemparkan anda semua bukan ? . alasannya, banyak yang memposting tentang
penyebab-penyebab masuk neraka . berbeda dari postingan sebelumnya, saya mengupdate postingan tentang kisah/cerita teladan rasulullah. tapi, kali ini saya ingin tampil beda dengan yang
lain. langsung saja baca artikelnya semoga bermanfaat dan dapat
menambah ilmu sobat sekalian. karena seperti yang kita tahu, Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT, dibanding dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى
كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka diatas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna (QS : Al-Isro : 70)
dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka diatas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna (QS : Al-Isro : 70)
Dan manusia juga adalah makhluk Allah yang paling baik anatomi tubuhnya.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5)
Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan mereka ke tempat yang hina (QS : Attin : 4 – 5). Selanjutnya menurut Allah dalam ayat diatas (QS: Attin : 5) bahwa ternyata manusia ada yang dikembalikan ke tempat yang hina, yang dimaksud tempat yang hina adalah Neraka, karena memang neraka itu tempat yang hina bahkan menginakan seseorang. Ketika dulu manusia dihormati, disegani, ditakuti, difuji bahkan mungkin juga sangat ditaati oleh orang lain, tapi ketila ia masuk neraka maka ia menjadi hina dan terhina. Lalu apa penyebabnya sehingga manusia masuk neraka tempat yang hina itu ? sebetulnya banyak faktor yang menyebabkan manusia masuk neraka, tapi secara garis besarnya adalah diakibatkan karena tiga perkara, yaitu :
Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan mereka ke tempat yang hina (QS : Attin : 4 – 5). Selanjutnya menurut Allah dalam ayat diatas (QS: Attin : 5) bahwa ternyata manusia ada yang dikembalikan ke tempat yang hina, yang dimaksud tempat yang hina adalah Neraka, karena memang neraka itu tempat yang hina bahkan menginakan seseorang. Ketika dulu manusia dihormati, disegani, ditakuti, difuji bahkan mungkin juga sangat ditaati oleh orang lain, tapi ketila ia masuk neraka maka ia menjadi hina dan terhina. Lalu apa penyebabnya sehingga manusia masuk neraka tempat yang hina itu ? sebetulnya banyak faktor yang menyebabkan manusia masuk neraka, tapi secara garis besarnya adalah diakibatkan karena tiga perkara, yaitu :
- Bodoh, tidak mau mencari kebenaran
Memang manusia itu asalnya bodoh tidak mempunyai pengetahuan apa-apa
didunia ini, tapi Allah SWT tidak menginginkan manusia tetap dalam
keadaan bodoh atau tidak berpengetahuan, maka Allah SWT memberikan
sarana supaya manusia menjadi pintar, berilmu (punya pengetahuan),
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ
شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan akal agar kamu bersyukur (QS : Annahl : 78)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan akal agar kamu bersyukur (QS : Annahl : 78)
Berdasarkan surat Annahl tersebut bahwa Sarana yang Allah berikan
kepada manusia, ssupaya manusia itu menjadi berpengetahuan, adalah
Pendengaran, Penglihatan dan Akal. Ketiga sarana tersebut harus
dimanfaatkan oleh manusia dengan baik untuk sebuah kebaikan, jika tiga
sarana tersebut tidak dimanfaatkan untuk kebaikan maka manusia akan
terlempar ke Neraka.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ
بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ
بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُون
Dan sungguh banyak yang Kami lempar ke neraka jahannam dari golongan jin dan manusia, mereka memiliki hati (Akal) tapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( hal yang baik / ayat-ayat Allah), dan mereka juga memiliki penglihatan tapi tidak dipergunakan untuk melihat (hal yang baik /ayat-ayat Allah), dan mereka juga memiliki pendengaran tapi tidak dipergunakan untuk mendengar (hal yang baik / ayat-ayat Allah), mereka itu seperti hewan, bahkan lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai(bodoh) (QS : Al’arof : 179)
Dan sungguh banyak yang Kami lempar ke neraka jahannam dari golongan jin dan manusia, mereka memiliki hati (Akal) tapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( hal yang baik / ayat-ayat Allah), dan mereka juga memiliki penglihatan tapi tidak dipergunakan untuk melihat (hal yang baik /ayat-ayat Allah), dan mereka juga memiliki pendengaran tapi tidak dipergunakan untuk mendengar (hal yang baik / ayat-ayat Allah), mereka itu seperti hewan, bahkan lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai(bodoh) (QS : Al’arof : 179)
Dari kebodohan ini timbullah :
- Kemusyrikan
- Taqlid (mengikuti orang lain, tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan).
- Akhlaq yang buruk
- Kemusyrikan
- Taqlid (mengikuti orang lain, tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan).
- Akhlaq yang buruk
- Tidak mengamalkan dari ilmu yang telah didapatkannya
Dari uraian diatas bahwa sebagai manusia harus berilmu atau
berpengetahuan, jika manusia sudah berilmu, maka selanjutnya ia dituntut
untuk mengamalkan dari ilmunya itu, jika tidak, maka inipun akan
menjadi penyebab masuk ke Neraka. Dalam haditsnya Rosulallah SAW
mengingatkan :
وعن أَبي زيدٍ أُسامة بْنِ زيد بن حَارثَةَ، رضي اللَّه عنهما، قَالَ:
سَمِعْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ: “يُؤْتَى
بالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيامةِ فَيُلْقَى في النَّار، فَتَنْدلِقُ أَقْتَابُ
بَطْنِهِ، فيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ في الرَّحا،
فَيجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّار فَيَقُولُونَ: يَا فُلانُ مَالَكَ؟
أَلَمْ تَكُن تَأْمُرُ بالمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ:
بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بالمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيه، وَأَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ
وَآَتِيهِ” مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Abi Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah ra berkata : aku mendengar Rosulallah SAW bersabda : aka ada seorang laki-laki yang datang pada hari kiyamat lalu masuk ke dalam neraka, dalam keadaan terurai isi perutnya, lalu ia berputar-putar seperti berputarnya seekor keledai pada sebuah kisaran, lalu orang-orang bertanya : wahai pulan kenapa anda begitu? Bukankah anda orang yang suka memerintahkan kebaikan dan menjauhi kemunkaran?, maka ia menjawab : ia benar, saya suka menyuruh orang lain berbuat kebaikan tapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya juga suka memerintahkan orang lain supaya menjauhi kemungkaran, tapi saya sendiri malah melakukan kemungkaran (HR : Bukhori – Muslim . Riyadlu Sholihin : 1/98)
Dari Abi Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah ra berkata : aku mendengar Rosulallah SAW bersabda : aka ada seorang laki-laki yang datang pada hari kiyamat lalu masuk ke dalam neraka, dalam keadaan terurai isi perutnya, lalu ia berputar-putar seperti berputarnya seekor keledai pada sebuah kisaran, lalu orang-orang bertanya : wahai pulan kenapa anda begitu? Bukankah anda orang yang suka memerintahkan kebaikan dan menjauhi kemunkaran?, maka ia menjawab : ia benar, saya suka menyuruh orang lain berbuat kebaikan tapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya juga suka memerintahkan orang lain supaya menjauhi kemungkaran, tapi saya sendiri malah melakukan kemungkaran (HR : Bukhori – Muslim . Riyadlu Sholihin : 1/98)
Jika seseorang sudah memiliki ilmu, tapi tidak mengamalkannya maka akan terjadi :
- Penipuan / Munafiq
- Fasik
- Penipuan / Munafiq
- Fasik
- Tidak mengendalikan hawa nafsu
Dalam Alqur-an Nafsu itu ada yang disebut :
a. Nafsu Amaroh, yaitu : kecenderungan terhadap keburukan dan tidak mau peduli terhadap kebaikan sedikitpun.
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya Nafsu itu selalu mengajak kepada keburukan”
Kemudian ada nafsu yang agak baik dari nafsu amaroh, yaitu :
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya Nafsu itu selalu mengajak kepada keburukan”
Kemudian ada nafsu yang agak baik dari nafsu amaroh, yaitu :
b. Nafsu Musawalah, yaitu : Nafsu yang mana bisa saja orang tersebut
berbuat baik atau bisa juga berbuat buruk, tergantung siapa yang
mengajaknya, jika orang jahat yang mengajaknya maka orang yang berada
diposisi Musawalah ini akan ikut berbuat jahat, tapi jika orang berbuat
baik yang mengajak maka diapun akan berbuat baik.
….وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي
….dan begitulah telah merayuku nafsuku (QS : Thoha : 96)
Yang ketiga ada juga yang disebut dengan : Nafsu Lawamah.
….dan begitulah telah merayuku nafsuku (QS : Thoha : 96)
Yang ketiga ada juga yang disebut dengan : Nafsu Lawamah.
c. Nafsu Lawamah adalah Nafsu yang yang sudah mengarah terhadap
kebaikan, walaupun tidak segera ia melakukannya, suka banyak piker-pikir
dulu padahal sudah ia sudah tahu bahwa yang ia pikirkan itu adalah
sebuah kebaikan, tapi ujung-ujungnya kebaikan tersebut tetap ia lakukan,
contoh ketika ia akan shodaqoh, muncullah dalam dirinya pertanyaan”
shodaqoh apa jangan-shodaqoh apa jangan”, tapi walaupun demikian
ujung-ujungnya tetap ia pun bershodaqoh. Jadi Nafsu Lawamah ini sudah
terselamatkan dari ketidak baikan.
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَة
d. Nafsu Muthma’innah, nafsu ini sudah benar-benar sangat cenderung
kepada kebaikan, bahkan sangat tidak tertarik terhadap perbuatan dosa
atau barang haram, dan ia pun merasa risi jika melihat kemaksiatan atau
sesuatu yang haram. Contoh : sikap kita terhadap Babi, Babi hukumnya
haram, disamping haram kita juga jiji terhadap hewan ini yang akhirnya
sangat tidak suka, sangat tidak tertarik terhadap babi yang hukumnya
haram itu. Jadi insya Allah dalam urusan babi mungkin banyak umat islam
yang sudah Muthma’innah, tapi entah dalam urusan yang lainnya.
Orang yang sudah berada diposisi nafsu Muthma’innah ini sudah terjamin bakal masuk suga. Allah berfirman :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ
رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي
جَنَّتِي (30
Hai (yang memiliki) Nafsu Muthma’innah . kembalilah terhadap Tuhanmu yang meridloi dan di ridloi. Maka masuklah kamu kedalam hamba-hamba-Ku . Dan masuklah ke Surga-Ku. (QS : Alfajr : 27 – 30)
Hai (yang memiliki) Nafsu Muthma’innah . kembalilah terhadap Tuhanmu yang meridloi dan di ridloi. Maka masuklah kamu kedalam hamba-hamba-Ku . Dan masuklah ke Surga-Ku. (QS : Alfajr : 27 – 30)
Supaya manusia tidak terlempar ke Neraka maka dalam hal ini manusia
harus bisa mengendalikan nafsunya, dampak buruk yang diakibatkan karena
tidak mau mengendalikan hawa nafsu, antara lain:
- Bid’ah
- Terlena dengan kesenangan dunia sehingga lupa terhadap akhirat
- Sombong
- Dll
Wallahu ‘alam bishowab
- Bid’ah
- Terlena dengan kesenangan dunia sehingga lupa terhadap akhirat
- Sombong
- Dll
Wallahu ‘alam bishowab
Follow @Alfiandar_
| Tweet |

0 komentar:
Posting Komentar